Sekelumit Industri Udang Nasional

Oleh: Andhika Rakhmanda

Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) industri udang dirasa paling siap diantara komoditas perikanan lainnya. Hal ini karena sistem logistik industri perudangan sudah tertata dari hulu ke hilir. Bicara masalah pasar, permintaan udang relatif stabil dan tidak semua negara mampu menyuplai.


Saat ini sebagian besar kebutuhan udang dunia di produksi oleh negara-negara di ASEAN seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Filipina, Myanmar, ditambah negara Asia seperti India, Cina,  dan Bangladesh. Indonesia menjadi salah satu pemimpin pasar udang dunia, terutama untuk pasar udang Amerika dan Jepang

Tahun ini, berdasarkan data yang dilansir oleh National Marine and Fisheries Service (9/5), Indonesia membukukan angka ekspor udang sebanyak 8.909 Metrik Ton (MT) ke pasar Amerika, mengungguli pesaing terberatnya, India. Di pasar Jepang, Indonesia juga berjaya di peringkat pertama dengan membukukan ekspor sebanyak 2.174.883 kg.

Terkait kebutuhan udang dunia, saat ini ada tiga pasar utama yang menjadi tujuan yakni Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Eropa. Misalnya saja AS rata-rata setiap tahunnya membutuhkan udang sekitar 550 - 570 ribu ton. Kebutuhan Jepang berkisar 200 ribu ton per tahun, sementara Uni Eropa kebutuhannya berkisar 460 ribu ton per tahun.

Mengkalkulasi total kebutuhan udang dunia dari tiga pasar utama internasional, diperkirakan kebutuhan udang dunia dunia berkisar 1,1 - 1,2 juta ton per tahun. Jika dilihat lagi turunannya, kebutuhan udang dunia 1,1 juta – 1,2 juta ton per tahun tersebut tersaji dalam berbagai bentuk olahan seperti head on shell on atau udang utuh beku, udang tanpa kepala (headless), udang kupas (peeled), hingga udang siap masak (ready to cook). Artinya, kebutuhan udang dalam bentuk biomassa lebih besar lagi karena udang yang sudah dikupas itu kehilangan sekitar 30 % biomassa.

Ancaman Penyakit

Mendominasinya udang Indonesia di pasar Amerika dan Jepang tidak terlepas dari kondisi Vietnam, Thailand dan Malaysia yang masih menghadapi penyakit Early Mortality Syndrome (EMS). Penyakit sampai saat ini memang menjadi masalah utama pada industri budidaya udang.

Indonesia pun tidak lepas dari ancaman penyakit. Beberapa penyakit endemik di Indonesia seperti whitespot, Infectious Myonecrosis Virus (IMNV), dan White Feces Disease (WFD) sampai saat ini belum sepenuhnya bisa kita tangani. WFD misalnya, sudah menyerang sejak 2014 dan kini semakin merajalela.

Penyebab munculnya penyakit pada udang dipengaruhi oleh tiga faktor utama yakni udang atau inang, mikroorganisme parasit atau patogen dan lingkungan yang mendukung terjadinya penyakit (favourable environment). Jika salah satu faktor tidak ada atau tidak memenuhi syarat maka penyakit tidak akan terjadi.

Terapkan CBIB

Menghadapi ancaman penyakit dan kegagalan panen serta dalam rangka menjawab tantangan permintaan udang dunia yang terus meningkat, penerapan cara budidaya ikan yang baik (CBIB) menjadi keharusan bagi petambak. CBIB secara filosofi adalah proses produksi ikan atau udang yang bertanggung jawab terhadap empat unsur, yaitu lingkungan, keamanan pangan (food safety), sosial, dan ketertelusuran (traceability).

Dari sisi tanggung jawab lingkungan misalnya, penerapan CBIB akan mendorong petambak untuk menyiapkan effluent water treatment atau Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), yaitu kolam yang digunakan untuk mengolah kembali limbah tambak sebelum dibuang ke laut atau perairan umum.

Hal ini penting karena air dari laut atau perairan umum tersebut pada akhirnya akan kita gunakan kembali untuk proses budidaya. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka proses budidaya ibarat bom waktu yang tinggal menunggu kolaps saja karena kualitas lingkungan perairan tambak terus menurun.


Sebetulnya pemerintah sudah memfasilitasi pelaksanaan sertifikasi CBIB secara gratis, namun kesadaran petambak untuk melakukan sertifikasi masih minim. Belum adanya manfaat langsung dari penerapan CBIB, seperti perbedaan harga misalnya, menjadikan petambak enggan melakukan sertifikasi.

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar