Umur saya baru saja masuk 23 tahun. Kalau Tuhan mengizinkan,
dua tahun lagi umur saya 25 tahun. Umur yang kata banyak orang, disitulah kehidupan
sesungguhnya dimulai.
Sebenarnya bukan kata banyak orang, tapi kata bapak.
Bapak menikah dengan ibu di usia 25 tahun. Ibu juga, tapi belum genap 25. Bapak
lahir bulan April, ibu November. Disitulah mungkin arti kehidupan sesungguhnya
bagi bapak. Ketika bapak mulai berani mengambil tanggung jawab, bukan hanya
menafkahi, tapi juga menanggung semua hal yang dilakukan perempuan yang ia
sayangi. Ya, Ibu, perempuan manis yang menarik hati bapak.
Bapak dan ibu bertemu di Jakarta. Keduanya sama-sama merantau
dari Jawa (Jawa dalam artian Jawa Tengah ke timur, bukan Pulau Jawa :p). Bapak
waktu itu masih bekerja sebagai buruh di PT. Sedangkan ibu, ikut mbaknya (saya
memanggilnya budhe) yang sudah
berkeluarga. Namanya ngikut (atau numpang) berarti siap melakukan
pekerjaan apapun di rumah, jadilah ibu laiknya pembantu.
Bapak sering tidak sengaja (mungkin sengaja, tapi saya tidak
tahu kebenarannya) memperhatikan aktivitas keseharian ibu. Pagi-pagi buta sudah
grasak-grusuk, kemudian kerja berkeliling Jakarta sebagai sales asuransi, sore
pulang grasak-grusuk lagi. Memperhatikan bukan berarti selalu melihat, lebih
sering mendengar, bertanya, kadang-kadang berpapasan tentunya :).
Letak kos bapak yang berdekatan dengan rumah yang ditinggali ibu membuat
terdengarnya proses grasak-grusuk itu menjadi mungkin. Tentu saja karena bapak
ngekos di tempat suaminya budhe, yang
juga Pak RT, orang yang saya panggil pakdhe.
Proses grasak-grusuk itu pula yang menjadikan bapak sering
silaturahim ke tempat pakdhe untuk berdiskusi
masalah warga. Ah bukan, untuk melihat ibu, meski hanya sebentar, sesebentar
ketika ibu mengantarkan minuman untuknya. Momen yang sebentar itu begitu
berharga bagi bapak. Bapak pernah bercerita, ia begitu penasaran, gadis yang
tinggal di tempat Pak RT ini siapa? kalau adik ko kaya pembantu, kalau pembantu
ko cantik. Hahaha, ada-ada saja.
Aku kira daya juang ibu yang menarik hati bapak, ternyata
tidak juga. Kata bapak, kadang kita tidak mengerti kenapa kita mencintai
seseorang. Ah benar juga. Tapi bapak bersyukur karena mendapatkan pendamping
seperti ibu. Ibu, menurut bapak, selalu melindungi marwah bapak dan keluarga,
bahkan sejak awal proses menuju pernikahan. Bapak pernah bercerita, dulu ketika
melamar dan menikahi ibu di Piyungan Jogja, bapak tidak membawa seserahan apapun, hanya
mas kawin. Keluarga dari pihak ibu sebenarnya bertanya kepada ibu, namun ibu
menjawab “sudah di Jakarta semua”. Ibu melindungi kehormatan bapak dari
keluarganya. Sebenarnya ketika tahu, bapak malu. Sayangnya ibu tidak memberi
tahu waktu itu. Ya, bapak dulu memang kurang memperhatikan atau tidak tahu
banyak tentang adat. Mungkin seperti saya hari ini.
Saya anak ke-empat dari pasangan ini. Menjadi bungsu membuat
kita banyak mendengar cerita. Mulai dari cerita tentang bapak dan ibu ketika
muda hingga cerita tentang bagaimana mbak dan mas-mas kita tumbuh dan
berkembang. Kadang-kadang saya bertingkah aneh, saya ingin sedikit merasakan
apa yang dialami bapak dan ibu ketika muda. Hal itu yang kemudian menjadikan
saya ber-azzam untuk tidak menggunakan motor selama masih sekolah, meski di
akhir masa studi pekuliahan menggunakan motor juga untuk kepentingan
penelitian. Sebenarnya menjadi mandiri tidak harus selalu dengan cara-cara
seperti itu, tapi entah kenapa, rasanya ingin saja. Meski bapak dan ibu tentu
saja selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Kalau Tuhan mengizinkan, awal tahun depan saya akan menikah.
Umur saya masih 23 tahun, 'dia' juga, meski belum genap 23. Saya lahir bulan
November, dia April. Doaku sederhana, semoga aku bisa menjadi imam yang baik. Menjadi
suami dan ayah yang baik bagi isteri dan anak-anakku kelak, karena Allah.
Dan untuk kamu, semoga bisa menjadi isteri dan ibu yang baik
untukku dan anak-anak kelak, juga karena Allah. Maaf jika aku tidak sempurna dan banyak kurangnya,
tapi aku akan berusaha. Terimakasih telah percaya padaku.
Ditulis pada 30 November ke 23-ku dan dipublikasikan pada 12 April ke 23-nya.
*Catatan: Semi Abdullah, orang yang saya sebut pakdhe dalam tulisan ini, menjadi salah satu saksi dalam akad nikah kami pada 12 Maret 2016.

0 komentar:
Posting Komentar