Membangun SDM Perikanan dan Kelautan

Oleh: Andhika Rakhmanda

Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo industri perikanan dan kelautan memasuki babak baru. Industri perikanan dan kelautan yang dulunya hanya menjadi pelengkap, kini mulai diprioritaskan dan perlahan-lahan mulai membaik serta menunjukkan prospek cerah.

Pada sektor perikanan budidaya misalnya, tahun ini Indonesia sedang unjuk gigi di pasar udang global. Sepanjang kuartal pertama 2016, ekspor udang asal Indonesia ke pasar Amerika Serikat (AS) dan Jepang mendominasi. Berdasarkan data yang dilansir National Marine and Fisheries Service (9/5), Indonesia membukukan angka ekspor udang sebanyak 8.909 Metrik Ton (MT) ke pasar Amerika, mengungguli pesaing terberatnya, India. Di pasar Jepang, Indonesia juga berjaya di peringkat pertama dengan membukukan ekspor sebanyak 2.174.883 kg.

Tren positif ini bisa jadi merupakan dampak dari upaya ekspansi yang dilakukan petambak udang nasional beberapa tahun belakangan ini. Harga udang yang cenderung stabil tinggi dalam 1 tahun terakhir dan keinginan pemerintah untuk menjadikan laut sebagai halaman depan Indonesia, mendorong minat para petambak dan pelaku usaha perikanan lain untuk menambah pundi-pundi hasil panen mereka. Tidak sedikit pengusaha tambak baru yang langsung terjun dalam skala semi intensif, intensif, maupun supra intensif.

Perguruan Tinggi

Meski masih menuai banyak masalah di sektor perikanan tangkap, perkembangan industri perikanan dan kelautan yang menggembirakan ini harus diimbangi dengan ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) yang andal, agar pertumbuhannya berkelanjutan.

Salah satu tantangan terbesar ketika kita melakukan pengembangan usaha perikanan di suatu daerah adalah kebutuhan akan SDM yang memahami dan menguasai kebutuhan, keragaman, dan dinamika sektor tersebut.

Sayangnya, perguruan tinggi di Indonesia yang mengembangkan program studi di bidang perikanan dan kelautan hanya berjumlah 50 perguruan dengan level organisasi yang beragam. Mulai dari setingkat fakultas, jurusan, program studi, hingga hanya skala laboratorium. Persebaran dan kualitas perguruan tinggi negeri di bidang perikanan dan kelautan juga masih timpang antar wilayah.

Introduksi usaha perikanan (on farm), baik budidaya perikanan maupun penangkapan biasanya cenderung dilakukan pada wilayah yang dekat dengan laut atau pesisir yang secara geografis umumnya jauh dari perkotaan. Wilayah yang jauh dari kota tersebut menjadikan masyarakat yang hidup di pesisir sulit mendapatkan akses pendidikan yang bermutu. Di sisi lain, usaha perikanan memiliki tanggung jawab sosial untuk menyerap sebagian besar tenaga kerja dari masyarakat di sekitar lingkungan usaha agar manfaatnya dirasakan masyarakat sekitar.

Pada kondisi ini, tantangannya adalah bukan mencari SDM yang berkualitas melainkan mengembangkan SDM yang pada awalnya tergolong menengah kebawah. Jika mengembangkan program studi bidang perikanan dan kelautan setingkat perguruan tinggi di wilayah pesisir dirasa sulit dan butuh banyak waktu, mengembangkan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bisa menjadi alternatif.

SMK bidang perikanan dan kelautan yang sudah ada juga perlu didorong untuk terus mengembangkan program studi yang sesuai dengan kebutuhan industri di wilayah sekitar. Pengalaman di Kecamatan Cikelet Kabupaten Garut misalnya, SMK Perikanan dan Kelautan yang ada umumnya hanya mengembangkan program studi pelayaran dan otomotif, padahal industri perikanan dan kelautan yang berkembang beberapa tahun terakhir di daerah tersebut adalah budidaya perikanan, khususnya tambak udang.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta juga demikian. Dari 35 SMK yang terdaftar di DIY, tercatat hanya SMK Negeri 1 Temon Kulon Progo dan SMK Negeri 1 Sanden Bantul yang mengembangkan program studi bidang perikanan dan kelautan, lingkup program studinya pun hanya berfokus pada penangkapan ikan dan pengolahan hasil perikanan. Perlu pengembangan program studi budidaya perikanan mengingat masyarakat DIY saat ini sedang giat-giatnya melakukan ekspansi ke industri budidaya perikanan.

Diharapkan dengan berkembangnya SMK bidang perikanan dan kelautan di wilayah-wilayah pesisir, pelaku usaha perikanan dapat memperoleh input lulusan yang ‘siap pakai’ karena program pembelajaran di SMK pada umumnya lebih terfokus pada kompetensi yang diharapkan oleh pengguna lulusan ketimbang konten.


Upaya ini akan menarik minat generasi muda Indonesia untuk mendalami industri kelautan dan perikanan sehingga usaha perikanan dan kelautan dapat terus tumbuh dan berkelanjutan.

Artikel ini dimuat dalam Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, 15 Juli 2016



Share this:

0 komentar:

Posting Komentar