Islam dan Pahlawan

Pahlawan. Terkadang kata itu dapat sangat mudah disematkan terhadap orang yang dianggap berjasa bagi kita atau orang lain. Namun siapa sebenarnarnya pahlawan dan bagaimana Islam memandang dan menghargainya?
Saat ini ada fenomena baru di negara kita. Para remaja putri di Indonesia sedang demam salah satu penyanyi pop asal Canada, Justin Bieber. Beberapa menamakan diri mereka sebagai “Belieber”. Selain masih muda, berwajah tampan, doi juga multitalented, tak heran jika remaja putri kita mengidolakannya bahkan sampai memimpikan untuk memiliki pasangan seperti Justin.
Di Argentina ada kejadian yang lebih aneh lagi. Beberapa pecinta sepak bola dan penggemar mantan bintang Argentina, Diego Armando Maradona, yang menamakan diri mereka “Diegorian Brothers” membuat agama baru dengan Maradona sebagai Tuhannya. Mereka menamakan tempat peribadatan mereka “Gereja Maradonian” dan menggunakan otobiografi sang bintang sebagi “Al kitab”. Mereka percaya bahwa Tuhannya sepak bola lahir pada tanggal 30 Oktober sesuai dengan tanggal lahir Maradona.
Fanatisme seperti inikah yang disebut pahlawan? Apakah setiap pujaan layak disebut pahlawan?

Mendefinisikan Pahlawan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan yaitu orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Dalam pengertian ini tokoh-tokoh seperti K.H. Dewantara, Jenderal Soedirman, serta Pangeran Diponegoro layak menyandang  gelar pahlawan. Tidak ada yang meragukan jasa mereka untuk memperjuangkan kedaulatan negeri ini.
Namun jika dilihat dari setiap bangsa yang memiliki pahlawannya masing-masing, tampaknya sebutan “pahlawan” tergantung dari sudut pandang orang yang melihatnya. Artinya pahlawan memiliki jasa besar untuk bangsa mereka sendiri. Sayangnya, istilah pahlawan sepertinya mengalami penurunan makna seperti contoh peristiwa yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Tentunya tidak semua pahlawan layak disebut pahlawan, hal ini kembali lagi kepada dari perspektif mana kita memandang. Munculnya “pahlawan” seperti ini tidak lepas dari kepentingan ideologi yang melatarbelakanginya. Gelar itu diberikan sebagai wujud penghargaan kepada mereka atas jasa-jasanya memperjuangkan ideologi “penguasa”, sekaligus menutupi kebobrokan yang pernah dilakukannya.

Pahlawan Menurut Islam

Menolong atau melakukan sesuatu untuk orang lain, berkorban dalam melakukan suatu kebaikan merupakan salah satu sikap kepahlawanan. Menurut Hasanah, “seorang pahlawan adalah seorang pemimpin untuk menggerakkan para pengikutnya dalam menegakkan kedaulatan rakyat, mendakwahkan kebenaran, mengentaskan keterpurukan ekonomi untuk kesejahteraan umat.”[1]
Pahlawan adalah orang-orang yang berjuang untuk menegakkan ideologinya, untuk kemuliaan kaumnya, dan untuk keyakinannya. Dia berkorban sedemikian rupa, dengan segala kegigihannya, mengorbankan pikiran, waktu, tenaga, harta, dan bahkan jiwanya untuk tegaknya ideologi tersebut.
Karena itu, yang layak disebut pahlawan dari sudut pandang Islam, yakni orang yang berjuang untuk menegakkan syariat Islam, untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslimin. Berjuang membebaskan kaum Muslimin dari upaya-upaya pemurtadan secara terselubung, dan berjuang untuk membebaskan kaum Muslimin dari liberalisme pemikiran Islam yang mengakibatkan orang-orang Islam tidak yakin dengan wahyu Allah.
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang mengajak kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 3 : 104)
Rasulullah SAW adalah sosok pahlawan sempurna yang merupakan salah satu dari pahlawan Islam yang begitu besar jasanya. Beliau telah membawa kita dari zaman kegelapan (Jahiliyah) ke zaman yang terang benderang (Islamiyah), mengajarkan hikmah, serta membawa Islam menjadi agama yang sangat disegani. Sejarah Rasulullah SAW menjadi panglima perang yang gagah berani dan berdakwah dengan kesabaran telah diceritakan oleh Allah dalam kitab-Nya.
Sesuai dengan namanya yang berasal dari kata “pahala” dan “wan”––yaitu orang yang pantas mendapatkan pahala, sesungguhnya pahlawan tidak perlu pengesahan dari manusia, namun Allah sajalah yang mempunyai hak untuk menetapkan diri seseorang sebagai pahlawan disisi-Nya.
Dan janganlah kamu katakan terhadap orang-orang yang terbunuh pada jalan Allah (bahwa mereka) itu mati, bahkan mereka itu hidup (di sisi Allah), tetapi kamu tidak menyadari. (QS. 2 : 154)

Bagaimana Islam Menghargai Seorang Pahlawan?

Generasi awal Islam terkenal dengan ketangguhannya dalam membela Agama, berkaca pada kehidupan Rasulullah SAW, serta kisah para sahabat dan pahlawan Islam yang lainya. Mereka yang berperang di jalan Allah. Mereka yang mati, meneteskan peluh dan darahnya untuk membela Agama karena Allah. Dijanjikan atas mereka surga oleh Allah, bahkan orang-orang yang gugur dijalan Allah dimuliakan dengan hidup di sisi Tuhannya.
Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul (Muhammad), maka mereka bersama-sama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah atas mereka dari para nabi, shiddiqin[2], syuhada[3], dan orang-orang saleh; dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4 : 69)
Menjadi seorang pahlawan tidak harus selalu berperang secara gamblang––angkat senjata, dalam konteks kekinian yang secara kasat mata tidak ada lagi “perang” dan kedholiman atau yang lainnya. Akan tetapi berperang dalam jihad fi sabilillah adalah berperang dengan hawa nafsu, berperang melawan kebodohan, berperang melawan kemaksiatan, berperang terhadap fitnah-fitnah dan ideologi-ideologi yang melawan Islam, mengajak kepada yang baik dan menjauhi yang buruk, semuanya ikhlas karena Allah. Kita tentu dapat belajar pada Al Jabbar yang menjadi pahlawan di bidang matemetika dan pendidikan, Muhammad Yunus pahlawan di bidang pemberdayaan rakyat kecil dan ekonomi Islam, Ibnu Sina pahlawan di bidang kedokteran, dan yang lainnya.
Lalu bagaimana cara kita dalam menghargai jasa-jasa pahlawan? Islam mengharuskan kita untuk senantiasa berdakwah, meneruskan perjuangan Rasulullah SAW dan para pahlawan kita, menanamkan semangat untuk terus untuk mengumandangkan ayat Allah di telinga manusia, menyampaikan ilmu dalam kebaikan, serta saling menasihati untuk menjauhi apa yang dilarang oleh Allah.
Islam juga menganjurkan kita untuk meneladani sikap-sikap kepahlawanan mereka. Mereka bergembira dengan karunia Allah yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, dan mereka bergembira terhadap orang-orang yang masih tertinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa mereka tiada merasa takut dan tiada berduka cita. Mereka bergembira dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang mukmin. Semuanya diabadikan oleh Allah, semuanya tercatat dengan indah dalam kitabullah, agar kita dapat mengambil hikmah di dalamnya.
Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, kamu menyuruh (berbuat) yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, kamu beriman kepada Allah; dan sekiranya Ahli Kitab itu beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. 3 : 110)
Bukankah janji Allah itu pasti?
Andhika Rakhmanda
November 2010
Ditengah hiruk pikuk aktivitas Merapi dan euforia semangat hari pahlawan.

Catatan : Artikel ini merupakan essai pertama yang saya tulis. Ditulis dalam rangka belajar, sekaligus mengikuti Islamic Essay Competition yang diselenggarakan KAMMUS FKG UGM 2010. Alhamdulillah terpilih menjadi essai terbaik. Meski dangkal dan masih terdapat cacat disana-sini, essai ini memotivasi saya untuk terus menulis.

[1] Hasanah, Iffah Noor. 2009. Hj. Siti Aminah : Menghargai Pahlawan. Wawancara. Jumat 6 November 09:57 WIB
[2] Shiddiqin adalah orang-orang yang teguh pendiriannya
[3] Syuhada’ adalah orang-orang yang mati syahid

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar