Merapi dan Petani Ikan Cangkringan

Banyak kisah duka yang dialami masyarakat di sekitar lereng Merapi. Tidak hanya peternak dan petani, ratusan pembudidaya ikan juga mengalami dampak langsung dari erupsi Merapi. Pembudidaya ikan yang biasa dikenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan petani ikan ini mengalami kerugian yang sangat besar, terutama di wilayah dengan radius 10-15 km dari puncak Merapi khususnya di daerah Cangkringan. Ratusan hektar lahan perikanan warga yang menjadi sumber penghidupan masyarakat rusak parah. Ikan-ikan mereka mati, gagal panen adalah pilihan yang tak dapat ditolak. Bagaimana kehidupan para petani ikan pasca Merapi bergejolak?

Petani Ikan di Cangkringan

Cangkringan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kecamatan Cangkringan berada di sebelah Timur Laut dari Ibukota Kabupaten Sleman. Jarak Ibukota Kecamatan ke Pusat Pemerintahan (Ibukota) Kabupaten Sleman adalah 25 km, sedangkan jarak ke puncak Merapi kurang lebih sekitar 10 km. Oleh karena itulah daerah ini menjadi salah satu kawasan yang terkena dampak cukup parah dari erupsi Merapi November lalu.
Kecamatan Cangkringan dihuni oleh 7.992 Kepala Keluarga. Jumlah keseluruhan penduduk adalah 27.657 orang dengan kepadatan penduduk mencapai 524 jiwa/km2. Sebagian besar penduduk adalah peternak dan petani ikan. Sektor perikanan memang menjadi mata pencaharian andalan dari Kecamatan Cangkringan. Dari data monografi kecamatan tercatat 13.224 orang atau 47.81 % penduduk Kecamatan Cangkringan bekerja di sektor peternakan dan perikanan. Hasil produksi perikanan kecamatan ini mencapai 7.598 kg/tahun, yang terbanyak adalah ikan mujahir dan nila sebesar 3400.7 kg, disusul lele dan gurameh (Pemkab Sleman, 2010).
Dilihat dari aspek sosial dan budaya, petani ikan di Kecamatan Cangkringan tidak mempercayakan rizekinya kepada hal-hal yang bernuansa ghaib terkait dengan kearifan lokal dari masyarakat Yogyakarta khususnya masyarakat pesisir yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Masyarakat petani ikan lebih cenderung memilih cara-cara yang ilmiah dan rasional untuk mendukung keberhasilan usahanya, seperti pemilihan lokasi yang tepat, desain konstruksi, benih, pakan, pengelolaan produksi, serta hama dan penyakit.

Dampak Erupsi Merapi

Pemandangan Letusan Merapi 2010
Meletusnya Gunung Merapi menimbulkan dampak terhadap hampir semua sektor, tak terkecuali perikanan. Para petani benih ikan dan pembudidaya ikan di Kecamatan Cangkringan, harus menelan kenyataan pahit. Hampir semua ikan peliharaan mereka mati terkena wedus gembel dan material abu vulkanik. Sejumlah kolam ikan yang berada di tengah sawah kini kebanyakan dibiarkan terbengkalai. Para petani enggan memanen karena hasilnya sangat sedikit. Selain itu, menyusul terjadinya lahar dingin yang melewati bantaran Kali Kuning dalam beberapa waktu belakangan ini menyebabkan budidaya perikanan warga Cangkringan tak tersisa. Aliran lahar dingin pembawa material Merapi ini membuat saluran air rusak dan material masuk ke kolam-kolam budidaya ikan. Di Desa Pentingsari misalnya, tidak ada satupun kolam budidaya ikan yang utuh, lantaran air kolam berganti lumpur (Radar Jogja, 2011).
Salah satu Anggota Kelompok Ikan Mina Puspita Desa Pentingsari, Endri memaparkan bahwa rata-rata penduduk Pentingsari membudidayakan benih ikan dan konsumsi jenis gurame, nila, dan bawal. Ikan ini biasanya dipasarkan ke luar Yogyakarta.  Akibat kejadian ini, lanjut Endri, setiap petani ikan mengalami kerugian sekitar 70 kg ikan jenis benih dan konsumsi. ”Kalau satu kilogramnya sekitar Rp 15 ribu, dihitung saja berapa kerugiannya,” imbuhnya. Nasib serupa juga dialami para pembudidaya ikan di Dusun Dongkelsari, Umbulmartani, Ngemplak, Umbulharjo, dan dusun-dusun lainnya.

Perubahan Pola Hidup

Permasalahan perikanan di Cangkringan tidak hanya sampai disini, akibat dari rusaknya kolam-kolam pembudidaya ikan ini juga berimbas pada terpuruknya aktivitas ekonomi di sejumlah pasar ikan di Kabupaten Sleman dan sekitarnya. Di Kecamatan Cangkringan, pasar-pasar seperti Pasar Bronggang Desa Argomulo dan Pasar Pucung Desa Argomulyo sudah mati dari aktivitas jual beli hasil perikanan bahkan lumpuh secara keseluruhan, karena memang perikanan menjadi sektor yang selama ini menopang perekonomian warga selain pertanian dan peternakan.
Lumpuhnya aktivitas ekonomi di sejumlah pasar ikan menambah pelik permasalahan warga. Petani ikan, pedagang ikan, dan juga pengepul kehilangan mata pencaharian maupun mata-dagangannya. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan pada pola hidup masyarakat khususnya petani ikan. Perubahan geomorfologis dan rusaknya lingkungan tanah (seperti ratanya sungai, luapan material lahar dingin, tanah menjadi lebih asam, dsb) yang merupakan faktor utama dalam usaha perikanan budidaya memaksa para petani ikan mencari profesi lain demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Di satu sisi tidak ada kemungkinan untuk mereka kembali ke profesi awal––sebelum menjadi pembudidaya ikan––sebagai petani atau peternak, karena sektor pertanian dan peternakan juga mengalami dampak yang cukup parah akibat dari erupsi Merapi.
Kebanyakan dari mereka (petani ikan-red) memilih untuk mengeruk atau menambang pasir dari sungai yang berhulu ke puncak Merapi demi mendapatkan upah Rp 100 ribu per hari. Padahal risiko bahaya banjir lahar dingin hingga saat ini masih mengancam meskipun intensitasnya sudah menurun. “Pilihannya ya cuma itu thok, yang penting bisa menghidupi keluarga,” ujar Pak Sidik, salah satu petani ikan di Kecamatan Cangkringan, Sleman. Sebagian lain memilih mengungsi ke tempat kerabat sembari menunggu kolam mereka dapat digunakan kembali.

Upaya Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Para petani ikan dalam diamnya selalu memikirkan masa depannya, salah satunya Pak Sidik. Dalam curhatannya ia mengaku kebingungan dengan nasib beliau dan teman-teman korban bencana lainnya pasca erupsi Merapi ini. Penghasilan dari menambang pasir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pak Sidik dan petani ikan lain yang turut menambang mengaku tidak tahu sampai kapan harus menambang pasir Merapi dan memulai untuk membudidayakan ikan lagi.
Pembudidayaan memang tidak bisa segera dilakukan kembali lantaran erupsi Merapi mengakibatkan perubahan geomorfologis lingkungan. Kolam-kolam belum dapat digunakan karena tertutup timbunan material abu vulkanik sehingga tanah cenderung menjadi lebih asam (Yuwono, 2010). Selain itu kondisi pengairan yang belum memadai dikarenakan sungai-sungai yang merupakan sumber irigasi menjadi rata.
Sejauh ini upaya yang sudah dilakukan para petani ikan Cangkringan baik secara personal maupun kelompok masih sebatas pembersihan kolam dan penggalian sungai-sungai secara kecil saja. Mereka berharap ada campur tangan pemerintah dan perguruan tinggi dalam menanggulangi upaya rehabilitasi dan rekonstruksi sektor perikanan khususnya sehubungan dengan pengadaan ketersediaan lahan pengairan, bantuan distribusi benih ikan, dan penyuluahan untuk mengatasi permasalahan yang ditimbulkan terkait dengan tingkat keasaman lahan yang dijadikan kolam budidaya.
Semoga tulisan ini bisa menjadi penyambung lidah kepada pemerintah dan akademisi.
Andhika Rakhmanda
Januari, 2011.

Bibiliografi

Anonim. 2011.”Kolam Ikan di Cangkringan dan Ngemplak Ludes”. Radar Jogja. Edisi Sabtu, 08 Januari.
Pemerintah Kabupaten Sleman. 2010. Data Monografi Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Http://www.slemankab.go.id. Akses 8 Januari 2011.
Yuwono, Triwibowo. 2010. Erupsi Merapi dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan Pertanian. Disampaikan dalam Workshop “Rehabilitasi dan Rekonstruksi Sektor Pertanian Pasca Bencana Merapi”.  Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar