Seperti apa perilaku anak muda kita
saat ini? Mendengar pertanyaan itu pikiranku menerawang kebelakang, masih segar
dalam ingatan dimana anak-anak muda bertingkah sedemikian rupa untuk
menunjukkan eksistensinya, termasuk dengan musik dan fashion. Kota-kota
besar seperti Bandung dan Jakarta sekitar tahun 1996 hingga akhir 2001 sempat
diramaikan dengan munculnya kelompok anak-anak muda yang dikenal dengan sebutan
Punk Rock. Identitas mereka bisa
dengan mudah dikenali melalui busana yang mereka gunakan. Mulai dari sepatu docmart, celana jeans ketat, jaket kulit, ikat pinggang yang warnanya mencolok,
hingga potongan rambut mohawk.
Didukung dengan munculnya band-band yang beraliran punk-rock seperti Radio Bandit Bekasi, Bor-Tak Bandung atau yang
paling terkenal mungkin SID (Supermen is
Dead) dari Bali.
Kemudian kira-kira tahun 2006, Emo (Emotion) mulai masuk dan menjamur di kalangan anak muda
Indonesia yang sebenarnya merupakan bentuk evolusi dari kaum skinhead-punk.
Sebagai contoh, band dengan aliran yang sering menampilkan scream (teriakan) pada musiknya ini di Indonesia salah satunya adalah
Killing Me Inside.
Seiring dengan terbentuknya budaya Punk dan Emo tersebut,
coretan-coretan di dinding pun ikut meramaikan. Coretan yang dikenal dengan
sebutan graffiti tersebut biasa
digunakan oleh anak muda di kota-kota besar untuk mengekspresikan kebebasan
serta semangat darah muda mereka yang sedang membara atau sekedar menunjukkan
eksistensi.
Apa makna dibalik kemunculan kelompok punk – emo, serta graffiti
tersebut? Apakah sekedar “iseng” dan riasan belaka? Atau ada semangat ideologi
yang mereka bawa?
Gerakan
Sub Kultur
Pada
mulanya, gerakan Punk Rock merupakan
gerakan subkultur yang muncul di Inggris sekitar tahun 1970 an. Subkultur merupakan sebuah gerakan
yang dilakukan oleh kaum marjinal terhadap budaya-budaya kaum dominan. Teori
mengenai subkultur ini dapat kita lacak dari kajian sosiologi maupun budaya.
Contohnya, Ibnu Khaldun menyatakan bahwa sejarah peradaban
manusia adalah pertarungan tanpa henti antara pusat dan pinggiran.
Biasanya,
kaum-kaum pinggiran itu meliputi kelas pekerja atau kaum miskin, sedangkan kaum
dominan diwakili oleh kelompok menengah dan kelompok atas.
Di
Inggris misalnya, pada abad ke 19 orang-orang dilarang mengenakan jaket saat
mereka masuk ke dalam mall. Larangan
ini diberlakukan karena jaket dianggap sebagai simbol kelas pekerja yang tidak
layak masuk ke mall karena status sosial
serta ekonomi mereka yang lemah.
Sudah
tentu larangan ini mengandung bias strata sosial yang sengaja dibuat oleh
kaum-kaum dominan. Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, Anda akan diusir
satpam ketika masuk mall karena
menggunakan sandal jepit. Barangkali, sandal jepit dianggap sebagai barang yang
mewakili kelas rendahan di Indonesia.
Dengan
adanya diskriminasi yang diwakili oleh jenis pakaian, akhirnya
kelompok-kelompok kritis sengaja mengenakan pakaian-pakaian tersebut sebagai simbol
perlawanan. Sepatu docmart maupun
celana jeans, tidak lain adalah
pakaian yang biasa dikenakan oleh pekerja-pekerja kasar di Inggris.
Gerakan
unik untuk melawan dominasi kecantikan dan feminitas budaya massa pun dilakukan
kelompok Punk Rock. Sejak tahun 1970an,
mereka melawan definisi kecantikan dengan cara mengecat rambut mereka dengan
warna hijau atau yang lainya, bahkan menggunduli kepala mereka sebagai anti
tesis terhadap tesis-tesis kecantikan, terutama yang disimbolkan dengan rambut
pirang (blonde).
Meski berawal dari musik, punk
sedikit demi sedikit berubah menjadi sebuah gaya hidup yang penuh dengan
pandangan dan ideologi, hal tersebut dikarenakan adanya pengertian bahwa
hebohnya penampilan (apperance/form) harus disertai dengan hebohnya
pemikiran (idea/content).
Mengapa
pakaian sangat mengandung bias status sosial? Seperti kata Pierre Bourdieu, pakaian dan makanan tidak lain
sebagai bentuk distinction (usaha
pembeda) kelas atas terhadap kelas bawah.
Membaca Makna Fashion
Punk dan Emo
Keberadaan band-band punk
yang mengglobal seperti Rancid dan Sex Pistols membuat demam fashion punk
semakin banyak, gaya punk bahkan
diadaptasi oleh band-band beraliran lain seperti heavy metal dan rock. Pengimitasian gaya punk tentunya juga merambah Indonesia,
karena banyak para remaja di sini yang mengidolakan band-band punk. Sifat remaja yang labil dan latah
menimbulkan kecenderungan untuk selalu mengadaptasi hal-hal yang mereka sukai
tanpa menganut ideologinya.
Apakah fashion punk
mempunyai arti? Semiotika mempercayai segala hal yang ada di dunia ini
mempunyai makna, tak terkecuali fashion
punk. Zoest dalam bukunya Semiotika (1993) mengatakan bahwa
simbol dalam musik sangat jelas keberadaannya. Pengenalan jenis, sejarah dan
gaya tergantung pada unsur-unsur simbolis dalam tanda komplek, yakni karya
musik. Dengan demikian, penggunaan asesoris fashion
pada pemusik termasuk dalam simbolitas musik karena berhubungan erat dengan
gaya hidup dan sejarahnya.
Berikut adalah analisis makna dari setiap item ikonik dalam fashion punk:
1. Rambut Mowhak
Gaya rambut yang dibuat berbentuk seperti mendongak keatas ini
merupakan adaptasi dari gaya suku Indian kuni yang pada waktu itu bernama
Mohican. Dengan posisi yang seperti menunjuk ke atas, dan rambut yang dibuat
kaku sehingga tidak mudah layu memiliki makna sebuah perlawanan akan takdir
Tuhan. Punkers merupakan gambaran
kaum tertindas yang tidak terima dengan posisi mereka di masyarakat. Punk menganggap strata mereka adalah
“takdir” yang dapat dilawan dan mereka mampu mengatasi takdir itu dengan bermusik.
2. Jeans Ketat Sobek
Jeans ketat bermakna sebuah himpitan dasyat dari lingkungan
terhadap mereka. Sobekan yang biasa terdapat pada bagian lutut dan paha
melambangkan sebuah simbol tentang kemerdekaan gerak dan ide para punk.
3. Rantai
Menyimbolkan
sebuah kesatuan yang utuh diantara para komunitas punk. Faktanya, kesatuan punk
memang terkenal sangat solid, sering kali mereka terlihat secara bergerombol,
berbagi rejeki dan tempat tidur secara bersama, bahkan diantara komunitas punk tidak ada diskriminasi berdasarkan
SARA atau secara ekonomi.
4. Piercing/tindik
Menyimbolkan kekuasaan atas tubuh, perlawanan terhadap penderitaan/rasa
sakit dan mengontrol tubuhnya sendiri.
5. Eye Shadow
Menyimbolkan
cara pandang punk yang suram terhadap sekitarnya. Bagi punk, masa depan terlihat sangat suram dan kurang menjanjikan,
seakan-akan mereka siap untuk menjadi kalangan terbawah sampai akhir hidup
mereka.
6. Sepatu Docmart/boots
Sepatu yang biasa dipakai disegala medan ini menyimbolkan bahwa Punkers akan siap menghadapi rintangan
apapun termasuk hukum dan kesulitan ekonomi.
Dalam pemahaman teori dusta dari Umberto Eco, semiotika digunakan
sebagai cara untuk berbohong. Menurut Eco, apa yang bisa mengungkapkan
kebohongan juga dapat digunakan sebagai pengungkap kebenaran. Demikian juga
dalam fashion punk, asesoris punk banyak digunakan oleh para remaja
untuk menutupi identitas dirinya sendiri, dengan memakai asesoris punk, mereka membohongi publik dengan
menyatakan diri sebagai punker,
padahal remaja yang menggunakan fashion
punk belum tentu memahami ideologi punk.
Bagi para imitator punk (sebutan bagi
orang yang suka berdandan ala punk,
namun tidak menjadi bagian dari komunitas punk),
memakai asesoris punk tidak lebih
dari lifestyle fashion, atau sebagai adaptasi visual semata. Dengan berdandan seperti punk mereka percaya kalau sedang
mengikuti tren atau “necis” yang dilakukan imitator punk adalah sedang memakai “sign” kemudian memaknai
secara lain.
Fashion punk tentunya tidak
mengikuti pemahaman dari motto “D.I.Y (Do It Yourself)” sebagai inti dari ideologi punk yang anti sosial, fashion punk atau disebut juga imitator punk hanya memahami punk sebagai trend fashion
saja. Mereka tidak mengadaptasi ideologi, namun hanya “punk sebagai tampilan”, atau dalam bahasa semiotika Sausure
terdapat istilah “Form” dan “Content”. Form adalah tampilan
sedang content adalah ideologi yang
ada di dalamnya. Dengan kata lain fashion
punk imitator hanya mengadaptasi “form”
bukan “content”nya.
Bagaimana dengan Emo?
Seperti
halnya punk, emo juga mempunyai atribut untuk melambangkan identitas mereka.
Namun berbeda dengan punk yang urakan atau anti kemapanan, atribut dan asesoris yang digunakan kaum emo justru terkesan mahal dan bermerek.
Pada dasarnya sama, emo
menggunakan topi, celana jeans, kalung, gelang, gasper, mempunyai tindik,
bertato, serta memakai peircing sebagai atributnya. Tetapi sudah tidak memiliki
makna ideologi. Semua atribut yang dipasang dan dipergunakan hanya sebatas
pelengkap. Yang terjadi hanya pemaknaan bahwa Emo (seluruh atributnya) adalah bentuk ekspresi dari anak-anak muda
pada umumnya (keren, modis, gaul, bermerk) yang juga jelas bertentangan dengan Skinhead-Punk. Sejauh ini memang belum
ditemukan dan didapat mengenai makna yang signifikan dalam setiap atribut yang
kaum emo kenakan.
Bisa dikatakan Emo
adalah sebuah bentuk merosotnya suatu makna ideologi dari suatu kaum subkultur
(Skinhead-Punk) yang selama ini telah
memiliki ideologi anti kemapanan sebagai bentuk perlawanan terhadap kemewahan,
hukum-hukum yang selalu menindas kaum kecil.
Penulis jadi teringat dialog anatara
Wisnusarman dengan sahabatnya Bekas Gubernur yang ingin menjadi petani pada kolom klasik Cucu
Wisnusarman di Harian Kompas era Orba. “Soalnya, barang siapa yang menginginkan
jadi gubernur bukanlah gubernur. Barang siapa yang menginginkan jadi petani
bukanlah petani. Sesungguhnya, seseorang adalah apa yang dikerjakannya, bukan
apa yang diinginkan.”
Andhika Rakhmanda
Di sudut kota Jogja
Jumat, 15 Juli 2011
Jumat, 15 Juli 2011
*) Disampaikan dalam Seminar Diskusi Ilmiah Karakter Bangsa sebagai Fondasi Utama dalam Membentuk Sumber Daya yang Berkualitas Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang, 15 Oktober 2011.
Juara II Islamic Essay Competition Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro 2011
Buku yang menemani:
Barthes, R. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol dan Representasi. Bandung: Jalasutra.
Zoest, Art van. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
Barthes, R. 2007. Membedah Mitos-mitos Budaya Massa: Semiotika atau Sosiologi Tanda, Simbol dan Representasi. Bandung: Jalasutra.
Zoest, Art van. 1993. Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
0 komentar:
Posting Komentar