Alhamdulillah. Satu gerbang lagi telah terbuka dalam kehidupan kita. Kita adalah anak muda terpilih. Kita berada disini setelah melalui perjuangan yang keras dan memeras keringat. Jerih payah itu kini terbayar sudah, diiringi dengan ucapan selamat dari kerabat, tetangga, dan keluarga. Itu harus disyukuri.
Adikku, engkau kini kuliah di UGM. Kampus ternama yang telah melahirkan banyak pembesar. Kampus yang dulu ayah ibumu kenal memiliki watak kerakyatan. Didirikan atas inisiatif seorang Raja pemberani, Sultan Hamengkubuwono IX. Sebuah kisah yang masih mereka ingat, beliau dengan rela membantu mengangkat keranjang penjual sayur. Beliau pula yang enggan tunduk pada NICA yang saat itu melakukan agresi. Kelugasannya telah membuat pasukan kolonial gentar dan cemas. Kemandiriannya membentuk mental dan harga diri rakyat. Dengan visinya, sebagian tanah istana digunakan untuk kuliah.
UGM lahir dari sebuah gagasan agung tentang kemandirian dan keberanian bersikap. Maka kami merasa terharu jika kamu berada di dalam sebuah pendidikan yang punya sejarah mulia. Ingatlah bahwa kampus bukan hanya tempat belajar untuk mendapat gelar, melainkan belajar memahami persoalan. Dulu, kampus ini punya banyak ilmuwan yang sederhana bersikap tapi mulia berpikir. Dari gagasan mereka timbullah pemahaman atas kemiskinan yang tidak disebabkan oleh kemalasan. Kampus ternyata tempat berlatih terbaik bagi kepekaan sosial dan solidaritas.
Mungkin aku bermimpi, jika kampus harus terus berjalan seperti itu. Tapi kini, aku dengar UGM dikritik karena biayanya semakin mahal. Apalagi tahun ini SPP akan diganti dengan UKT. Tapi pihak kampus merasa bahwa biaya itu cocok dengan fasilitas. Bahkan dalih biaya mahal juga dilakukan untuk menyubsidi mereka yang miskin. Rasa-rasanya pembelaan itu yang sering kami dengar. Biaya mahal untuk membantu yang miskin atau biaya mahal karna pemerintah sudah tidak memberi subsidi. Argumentasi orang pintar sulit dibantah. Berulang-ulang rektor menampik tuduhan itu. Padahal kakak-kakamu di kampus maupun masyarakat umum turut membenarkan.
Tapi adu argumentasi tidak pernah terbit dalam forum yang lebih netral dan melibatkan masyarakat bawah. Seolah-olah mahal dan murahnya UGM jadi urusan internal. Seakan gugatan atas biaya mahal itu jadi perkara ‘intelektuil’ yang tak perlu mengajak pihak luar.
Dik, mungkin itulah yang membuat kami sedikit khawatir atas apa yang kelak terjadi padamu. Jika bayaranmu mahal, pasti kamu ingin mendapat hasil lebih dari pendapatanmu. Mungkin itu yang membuat profesi dokter berongkos mahal. Bisa jadi, itu yang membuat hukum jadi barang jualan. Dan itulah yang membuat ilmuwan jarang bisa dipahami.
Mungkin itu yang membuatku bangga sekaligus khawatir. Apalagi di Fakultas Pertanian ini, tanggung jawab kita bukan hanya tentang pengembangan ilmu pengetahuan, tapi juga soal perut dan pangan bagi orang banyak. Karena itu, UGM bukanlah sangkar yang membuatmu merasa nyaman. Istilah kampus itu tidak hanya mencatat dan kuliah. Terlibatlah dalam organisasi, agar engkau bisa menyangsikan segala sesuatu yang berbau 'normal'. Tak ada gedung indah tanpa pengorbanan sama halnya tak ada kemiskinan tanpa penyebab. Kuucapkan selamat datang di kampus UGM. Jagalah nama baik orang tuamu bukan hanya dengan memberi nilai terbaik tapi juga berkorbanlah untuk perkara yang lebih besar.
Ada kisah yang kuingat ketika aku bercengkrama dengan sepasang orantua di lereng Merapi saat aku masih berstatus mahasiswa baru sepertimu. Ketika itu Merapi meletuskan laharnya. Aku turut menjadi relawan, meski hanya sebatas penyuplai logistik. Karna hari sudah malam, kami menginap di rumah warga di Cangkringan. Rumah sepasang kakek-nenek yang kuceritakan.
Diluar dugaan kami yang datang untuk 'membantu' sebagai relawan, malah diberi jamuan yang sangat layak jika tidak dibilang istimewa ditengah kondisi bencana. Beliau berusaha menampilkan sajian dan senyum terbaik. Kemudian aku, yang belum lama tinggal di Jogja, bertanya kepada beliau, "Mbah, saya orang baru disini, saya juga bukan orang jogja, mbah belum kenal saya. Kenapa sampai serepot ini menjamu saya?".
Mereka balik bertanya, "Mas kuliah di UGM nggih?"
"Inggih mbah", jawabku menanggapi.
Ada kisah yang kuingat ketika aku bercengkrama dengan sepasang orantua di lereng Merapi saat aku masih berstatus mahasiswa baru sepertimu. Ketika itu Merapi meletuskan laharnya. Aku turut menjadi relawan, meski hanya sebatas penyuplai logistik. Karna hari sudah malam, kami menginap di rumah warga di Cangkringan. Rumah sepasang kakek-nenek yang kuceritakan.
Diluar dugaan kami yang datang untuk 'membantu' sebagai relawan, malah diberi jamuan yang sangat layak jika tidak dibilang istimewa ditengah kondisi bencana. Beliau berusaha menampilkan sajian dan senyum terbaik. Kemudian aku, yang belum lama tinggal di Jogja, bertanya kepada beliau, "Mbah, saya orang baru disini, saya juga bukan orang jogja, mbah belum kenal saya. Kenapa sampai serepot ini menjamu saya?".
Mereka balik bertanya, "Mas kuliah di UGM nggih?"
"Inggih mbah", jawabku menanggapi.
Lalu mereka bercerita yang kira-kira seperti ini, "Dulu ketika Soekarno mengundang pemuda-pemuda seantero Indonesia untuk menimba ilmu di UGM, Sultan Hamengkubuwono IX berkata 'Wahai sekalian rakyat Jogja, terimalah anak-anak ini di rumah-rumah kalian, anggaplah mereka seperti anak-anak kalian sendiri. Karena nantinya, anak-anak muda inilah yang akan membangun Indonesia kedepan'."
Semoga bermanfaat.
Gadjah Mada adalah sumbermu,
Gadjah Mada adalah mata airmu,
Mengalirlah di dalamnya lautan pengabdian kepada RAKYAT!
Bukan kepada kemuktian diri.
Soekarno (Prasasti Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada)
Catatan: Ditulis pada tahun 2013 sebagai pengantar dalam buletin Inovasi Klinik Agromina Bahari edisi mahasiswa baru 2013.

0 komentar:
Posting Komentar