Bukan Pasar Malam dalam Putaran Perjalanan

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang (seperti dunia dalam pasar malam)... Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana...” –– Pramoedya Ananta Toer


Roman ini kutemukan di toko buku loak Pasar Turi Surabaya, dalam perjalanan dari Lampung-Yogyakarta-Probolinggo-Rumah (Cibitung, Bekasi). Kebetulan sekali, kisah dalam roman ini juga berlangsung dalam satu putaran perjalanan seoang anak revolusi yang pulang kampung karena ayahnya jatuh sakit. Dari seputaran perjalanan itu, terungkap beberapa potong puing gejolak hati yang tak pernah tertangkap dalam gebyar-gebyar revolusi.

Dikisahkan bagaimana keperwiraan seorang pemuda dalam revolusi yang pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru penuh bakti tergolek sakit karena TBC, anggota keluarganya yang miskin, rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menahan arus waktu, dan isteri yang cerewet (namun sabar nan pengertian).

Berpotong-potong kisah itu diungkapkan dengan sisa kekuatan jiwa yang berenang dalam jiwa seorang tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan yang sederhana dan fokus, tokoh “aku” dalam roman ini tidak hanya mengkritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para jenderal atau pembesar-pembesar negeri pasca kemerdekaan yang asik mengurus dan memperkaya diri sendiri.

“Ayah Tuan jatuh sakit oleh kekecewaan––kecewa oleh keadaan yang terjadi sesudah kemerdekaan tercapai. Rasa-rasanya tak sanggup lagi ia melihat dunia kelilingnya yang jadi bobrok itu––bobrok dengan segala akibatnya. (Hal. 102)

Berbeda dengan karya-karya Pram yang lain––yang hampir realisme murni, dalam Bukan Pasar Malam kita akan menemukan semangat religiusitas dan sepetak gambaran jiwa manusia yang gamang ketika berhadapan dengan maut.

Roman ini sederhana, singkat-padat, namun mengena. Entah kenapa, saat saya menyelesaikan roman ini, ada rasa sesak dalam hati. Di akhir bagian kita akan dibawa pada pertanyaan––yang juga merupakan percakapan antara orang tionghoa dan penjudi yang melayat almarhum ayahanda dari “aku”.

“Ya, mengapa kita ini harus mati seorang diri? Lahir seorang diri pula? Dan mengapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Dan kalau kita sudah bisa mencintai seorang manusia, dan orang itupun mencintai kita. Seperti mendiang kawan kita itu misalnya––mengapa kita harus bercerai-berai dalam maut. Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasar Malam”. (Hal. 95)

Benar juga, dunia ini bukan pasar malam. Kita tidak lahir serempak berduyun-duyun dan meninggalkan dunia berduyun-duyun pula. Kita lahir sendiri, pulang pun sendiri. Lalu kenapa kita ini harus hidup di satu dunia yang banyak manusianya? Karena kita diciptakan punya tujuan. Dan selama kita belum mengetahui tujuan itu, kita tergolong pada kelompok yang cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang.. entah ke mana––karena tidak tahu, ke mana kita kan berpulang.

Selamat membaca :)


Andhika Rakhmanda
Merak Belantung, Kalianda
Lampung Selatan

Share this:

0 komentar:

Posting Komentar