Menyiasati Lonjakan Harga Daging

Oleh: Andhika Rakhmanda

Lonjakan harga daging sapi dan ayam potong disertai kelangkan agaknya terjadi merata di wilayah Indonesia. Setelah sempat turun rata-rata Rp 109 ribu per kilogram pada 31 Agustus 2015 lalu, berbagai media Indonesia melaporkan bahwa harga daging sapi naik dalam kisaran Rp 120 - 130 ribu per kilogram di berbagai daerah seperti Yogyakarta, Lampung, Banyumas (Jawa Tengah), Klaten (Jawa Tengah), Purwakarta (Jawa Barat), dan Palangkaraya (Kalimantan Tengah).

Sementara daging ayam potong yang diharapkan dapat menjadi alternatif juga mengalami lonjakan harga. Di Kota Kupang Nusa Tenggara Timur misalnya, salah satu pedagang di Pasar Kasih, Kelurahan Naikiten 1 mengatakan bahwa harga daging ayam potong mencapai Rp 70 ribu perekor untuk ayam ukuran besar, padahal sebelum Natal 2015, harga ayam ukuran besar masih Rp 40 ribu perekor.

Beralih ke Ikan

Salah satu masalah utama yang muncul akibat kenaikan harga daging sapi dan ayam potong adalah menurunnya daya beli masyarakat terhadap daging. Lonjakan harga yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir juga berpotensi menurunkan konsumsi daging sapi dan ayam perkapita pertahun. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap asupan protein hewani masyarakat Indonesia.

Saat ini angka pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia bahkan jauh di bawah negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand. Tingkat konsumsi protein hewani Indonesia baru mencapai 60% perorang pertahun, sedangkan Vietnam dan Thailand telah mencapai 80% dan 100%. Rendahnya konsumsi protein hewani ini akan berdampak pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Tentu kita tidak ingin pembangunan manusia Indonesia tertinggal dibandingkan dengan negara-negara Asia lain.

Dalam kondisi harga daging sapi dan ayam potong yang tinggi, kebutuhan protein hewani sebenarnya bisa disubtitusi dari sumber lain seperti ikan, sayangnya tingkat konsumsi ikan masyarakat Indonesia pun masih rendah, yaitu sebesar 35 kilogram perkapita pertahun. Padahal potensi Indonesia sebagai negara dengan garis pantai terpanjang ke empat di dunia dan tingkat produksi perikanan terbesar ke-13 belum sepenuhnya dioptimalkan.

Belajar dari Argentina

Pada tahun 2010, ketika harga daging di Buenos Aires naik 30% dan memicu inflasi di Argentina. Presiden Argentina, Christina Fernandez melakukan langkah yang sangat tidak konvensional dalam memerangi penyakit ekonomi tersebut. Jika sebagian besar negara menggunakan kebijakan fiskal dan moneter untuk mengendalikan inflasi, Argentina menggunakan ikan untuk meredakan rasa sakit dari masyarakat yang tagihan makanannya meningkat setiap bulan. Dengan slogan “Now there’s fish for everyone”, pemerintah Argentina menggelontorkan program ‘ikanisasi’ melalui truk-truk yang dihiasi gelombang warna biru untuk mengendalikan inflasi. Caranya, menyediakan ikan murah bagi masyarakat.

Ini langkah kontroversial, mengingat warga Argentina adalah konsumen daging sapi terbesar di dunia dan banyak yang mengaku tidak menyukai ikan. Namun dengan naiknya harga daging sapi dalam tiga bulan terakhir, ikan menjadi sulit ditolak.

Langkah berani dari Fernandez ini patut kita tiru. Terlebih dengan potensi dan produksi perikanan Indonesia yang sangat besar, sudah sepatutnya sektor perikanan dan kelautan masuk ke dalam arus utama pembangunan nasional. Dengan mendorong masyarakat untuk mengonsumsi ikan yang harganya relatif lebih murah dari daging sapi dan ayam, maka permintaan terhadap daging sapi dan ayam potong pun akan menurun. Penurunan permintaan pada daging sapi dan ayam potong ini pada akhirnya akan menjadikan harga daging sapi dan ayam potong lebih stabil ditengah minimnya ketersediaan stok sapi dan ayam kita.

Kisah Fernandez menjadi contoh bagaimana sebenarnya sektor perikanan dan kelautan dapat memainkan peran nyata dalam pembangunan suatu negara. Memang dibutuhkan kemauan dan keberanian yang kuat dari pemerintah untuk menjalankan program ini. Argentina bukanlah negara yang terlalu diperhitungkan dalam hal perikanan dibandingkan dengan Indonesia. Ia mungkin lebih dikenal dalam hal sepak bola. Akan tetapi langkah mengejutkan Fernandez tersebut cukup membuat kita merenung, besarnya potensi perikanan dan kelautan kita hari ini rasanya belum dianggap sebagai sektor yang dapat berperan penting dalam perekonomian nasional. Janganlah wacana poros maritim dunia hanya menjadi jargon-jargon kampanye semata.

Artikel ini telah dimuat dalam Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, 4 Februari 2016




Share this:

0 komentar:

Posting Komentar